Selama ini saya sering lupa kalau saya dokter. Ternyata melupakan perjuangan 13 tahun itu gak sesulit yang orang lain bayangkan.
Melupakan perjuangan yang ngasih banyak pelajaran tentang sifat manusia itu gak susah. Sama mudahnya dengan melupakan teori-teori kedokteran yang pernah dipelajari saat kuliah. 🙂
Tapi apa orang lain bisa lupa dengan apa yang kita lakukan?
Sifat dasar manusia adalah melupakan apa yang dianggap tidak penting bagi dirinya. Tapi bagaimana jika hal itu penting? Tidak akan bisa dilupakan.
Hari ini saya diberi pelajaran tentang hal itu. Tahun lalu, saya tugas tetap di suatu klinik di pinggiran kota. Di klinik itu ada sekitar 6-7 dokter lain, jadi bukan hanya saya sendiri yang bertugas di klinik itu. Setelah setahun bertugas disitu, karena birokrasi tertentu akhirnya saya memilih hanya jadi dokter cadangan saja. Dalam sebulan, mungkin saya hanya tugas di situ 2-3x saja. Setelah beberapa bulan, akhirnya hari ini saya bertugas menggantikan dokter yang berhalangan.
Datang pasien, seorang ibu-ibu sudah cukup berumur, mengantar anak perempuannya untuk berobat. Salah satu kelemahan saya adalah susah sekali untuk mengingat orang, baik wajah maupun nama. Maka saya sama sekali tidak ingat dengan ibu itu.
Dari saat masuk ke ruang praktek saya, Ibu itu sudah menyapa dengan suara yang agak lantang (kalau menurut saya itu malah teriak ya 😛 )
Ibu: “Wah, ini dokter yang waktu itu nolongin suami saya ya?”
Saya: hanya bisa tersenyum karena saya samasekali tidak ingat
Ibu: “Makasih ya dok, waktu itu sampai mau repot dipanggil ke rumah”
Saya: “Suami ibu gimana sekarang?”
Ibu: “udah sembuh dari waktu itu,dok…Sekarang gak pernah sakit lagi”
Saya: “Syukur deh, Bu..”
Selanjutnya berfokus pada sakit anaknya. Setelah selesai prosedur pemeriksaan dll, sebelum keluar ruangan, Ibu tersebut masih sempat sekali lagi mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Dan entah kenapa, menurut saya, itu “smile of the day” 😀 )
Dan saya masih tidak ingat pernah ke rumah Ibu itu untuk mengobati suaminya. Saya bertekad untuk cari tahu tentang suaminya nanti setelah Ibu ini pulang.
Tapi rupanya, tanpa saya cari tahu, Ibu ini sudah langsung bercerita pada asisten saya di ruang depan. Dan saya hanya mencuri dengar dari ruangan saya.
Dia cerita, waktu itu sekitar bulan Agustus (dia bilang dekat dengan tujuhbelasan), suaminya sakit sudah beberapa hari. Suaminya termasuk orang yang keras (kalau gak mau dibilang galak), jadi sudah ada medis yang mengunjungi, tapi suaminya samasekali tidak mau minum obat yang diberikan, karena suaminya tidak bisa percaya dengan orang medis, lebih suka dengan Read the rest of this entry »