RSS

Apa nikmatnya menjadi dokter?

09 Feb

Selama ini saya sering lupa kalau saya dokter. Ternyata melupakan perjuangan 13 tahun itu gak sesulit yang orang lain bayangkan.

Melupakan perjuangan yang ngasih banyak pelajaran tentang sifat manusia itu gak susah. Sama mudahnya dengan melupakan teori-teori kedokteran yang pernah dipelajari saat kuliah.🙂

Tapi apa orang lain bisa lupa dengan apa yang kita lakukan?

Sifat dasar manusia adalah melupakan apa yang dianggap tidak penting bagi dirinya. Tapi bagaimana jika hal itu penting? Tidak akan bisa dilupakan.

Hari ini saya diberi pelajaran tentang hal itu. Tahun lalu, saya tugas tetap di suatu klinik di pinggiran kota. Di klinik itu ada sekitar 6-7 dokter lain, jadi bukan hanya saya sendiri yang bertugas di klinik itu. Setelah setahun bertugas disitu, karena birokrasi tertentu akhirnya saya memilih hanya jadi dokter cadangan saja. Dalam sebulan, mungkin saya hanya tugas di situ 2-3x saja. Setelah beberapa bulan, akhirnya hari ini saya bertugas menggantikan dokter yang berhalangan.

Datang pasien, seorang ibu-ibu sudah cukup berumur, mengantar anak perempuannya untuk berobat. Salah satu kelemahan saya adalah susah sekali untuk mengingat orang, baik wajah maupun nama. Maka saya sama sekali tidak ingat dengan ibu itu.

Dari saat masuk ke ruang praktek saya, Ibu itu sudah menyapa dengan suara yang agak lantang (kalau menurut saya itu malah teriak ya😛 )

Ibu: “Wah, ini dokter yang waktu itu nolongin suami saya ya?”

Saya: hanya bisa tersenyum karena saya samasekali tidak ingat

Ibu: “Makasih ya dok, waktu itu sampai  mau repot dipanggil ke rumah”

Saya: “Suami ibu gimana sekarang?”

Ibu: “udah sembuh dari waktu itu,dok…Sekarang gak pernah sakit lagi”

Saya: “Syukur deh, Bu..”

Selanjutnya berfokus pada sakit anaknya. Setelah selesai prosedur pemeriksaan dll, sebelum keluar ruangan, Ibu tersebut masih sempat sekali lagi mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Dan entah kenapa, menurut saya, itu “smile of the day”😀 )

Dan saya masih tidak ingat pernah ke rumah Ibu itu untuk mengobati suaminya. Saya bertekad untuk cari tahu tentang suaminya nanti setelah Ibu ini pulang.

Tapi rupanya, tanpa saya cari tahu, Ibu ini sudah langsung bercerita pada asisten saya di ruang depan. Dan saya hanya mencuri dengar dari ruangan saya.

Dia cerita, waktu itu sekitar bulan Agustus (dia bilang dekat dengan tujuhbelasan), suaminya sakit sudah beberapa hari. Suaminya termasuk orang yang keras (kalau gak mau dibilang galak), jadi sudah ada medis yang mengunjungi, tapi suaminya samasekali tidak mau minum obat yang diberikan, karena suaminya tidak bisa percaya dengan orang medis, lebih suka dengan cara tradisional.

Menurut ibu tersebut, saya adalah orang kedua yang dipanggil untuk mengobati suaminya, dan menurut ibu, setelah diperiksa, suaminya mau minum obat yang diberikan. Asisten saya bertanya apa yang membuat suaminya jadi mau minum obat itu, menurut ibu, suaminya hanya bilang “Dokter yang ini baik”…

Itu epic. Tapi saya samasekali tidak ingat. Berarti penyakitnya bukanlah penyakit yang berat. Berarti apa yang saya lakukan bukanlah hal yang harus dibesar-besarkan.

Tapi Ibu ini sudah menghadiahi saya dengan ucapan terimakasih dan senyumnya yang tulus. Itu jauh lebih epic buat saya.

Kembali ke judul, apa nikmatnya menjadi dokter?

Nikmatnya jadi dokter itu saat kita bisa melakukan pekerjaan yang dapat mengurangi penderitaan seseorang.

Terlalu idealis? Kenikmatan yang sebenarnya adalah yang sesuai dengan diri kita. Kalau menjadi idealis itu adalah diri saya, maka itu nikmat buat saya.

Dapat ucapan terima kasih? Itu adalah bonus indah untuk sepotong pekerjaan yang saya lakukan.

Saya merasa masih jauh dari dokter yang ideal, jauh dari dokter hebat, masih sering melakukan kebodohan. Tapi hal-hal seperti ini yang membuat saya masih bisa bertahan dengan idealisme. Semoga masih diijinkan untuk tetap idealis selanjutnya.

(f.p)

 
Leave a comment

Posted by on February 9, 2012 in Dokter, Personal

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: